Akbar JR Gong Marley
Senin, 03 Maret 2014
REGGAE INDONEISA
ini lah beberapa musisi reggae indonesia yang membuat musik reggae di INDONESIA semakin pesat dan berkembang,dari tahun ke tahun semakin banyak para musisi reggae yang berdatangan di belantika musik reggae,seperti musisi terdahulu seppeti RAS MUHAMAD yang mengeluarkan buku negeri pelangi,TONY Q yang mempunyai suara khas dan MOMONON,GANGSTARASTA,STEVEN JAM yang memebuat lagu yang sangat asik untuk di denger,mungkin untuk sebagian orang musik reggae hanya di pandang sebelah mata yang tidak mempunyai masa depan untuk para pendengar nya tapi sesungguh nya musik reggae memiliki makna dan tujuan yang sangat menginspirasikan untuk para pendengar nya.
STEVEN JAM
Steven jam telah merilis album perdannya di tahun 2010, yang bertajuk “Feel The Vibration” yang berisikan 11 lagu. 11 lagu tersebut di isi dengan tema keseharian, sosial dan cinta. Semua lagu yang ada di album “Feel The Vibration” merupakan ciptaan langsung dari vocalist, Steven Nugraha Kaligis.
Walupun solo karir, Steven tetap mengajak Tepeng di Guitarnya, Tepeng juga sebelumnya juga personil di Steven n Coconut Trezz.
5 KEUNIKAN TONY Q
Tony Q merupakan penyanyi beraliran reggae yang mempunyai suara rock, suara khas yang serak-serak basah itu menjadi keunikan tersendiri dari seorang tony q rastafara, antunan suara khas membuatnya cepat dikenal dari sisi suaranya tersebut.
2.Aliran Reggae dengan campuran musik Tradisional
Tony Q mengembangkan musik reggae dengan gaya khas dia sendiri, unsur reggae dengan campuran tradisional menjadi corak khusus yang kental dari musik-musik dia, seperti “republik sulap”, “pesta pantai” kita bisa dengarkan sendiri di dalamnya terdapat campuran unsur musik yang unik dan sangat enak untuk di dengar.
3.Perjalanan Hidupnya
Tony Q adalah merupakan seorang lulusan STM jurusan perkapalandikota semarang. Sebelum terjun ke dunia musik, pada tahun 1980 Tony Q pernah bekerja selama enam bulan di sebuah pabrik, lalu dia meninggalkan pekerjaannya itu dan memilih menjadi musisi.
4.Penghargaan yang diperoleh Tony Q
Tony Q juga memperoleh sejumlah penghargaan dari sejumlah ajang musik, inilah penghargaan-penghargaan tersebut :
- Headliners Bob Marley Festival. Houston TX, Amerika Serikat pada tahun 2002
- Invitation “Legend of Rasta Reggae Festival”. Houston TX, Amerika Serikat tahun 2003-2005
- Putumayo World Music Album Compilation, “Reggae Playground” – single “Pat Gulipat” tahun 2006 (oleh: wikipedia)
Tony Q memulai karier musik reggaenya sejak tahun 1989 yang dimulai dengan manggung dari cafe ke cafe lainnya bersama bandnya roots rock reggae, hingga pada akhirnya pada tahun 1994 dia membentuk grup musik yang diberi nama rastafara, dan itulah awal mula eksistensi dan mulai dikenal publik
BUKU NEGERI PELANGI
Pandangan masyarakat awam, bahkan oleh komunitas reggae di Indonesia
sendiri tentang reggae sering disimpulkan dan disalah-artikan sebagai
musik pantai dengan panorama pohon kelapa. Dianggap pula sebagai musik
yang tak terlalu memikirkan ke mana hari esok dan masa depan yang tidak
punya arah. Namun di balik semua rasa dan pandangan itu, reggae memiliki
sejarah dan pesan yang dalam.
Reggae tercipta dari bagian budaya. Ia memiliki tujuan dan nilai-nilai yang mulia, ia tercipta di sebuah pulau kecil wilayah Karibia bernama Jamaika. Negeri Jamaika yang populasinya tidak melebihi penduduk Jakarta telah menyebarkan produk ekspor terbesarnya dalam bentuk musik reggae hampir ke seluruh dunia. Hal ini akan mustahil jika tidak ada sosok musisi besar yang kini dikenal sebagai Bob Marley.
Dalam buku perdananya yang bertajuk “Negeri Pelangi” ini Ras Muhamad mencoba meluruskan anggapan-anggapan tersebut. Buku yang terilhami dari sebuah perjalanannya ke Etiopia di tengah tahun 2012 lalu ini mengupas tentang kebangsaan, keragamaan dunia, Rastafari, Bob Marley, Reggae, Ethiopia, Kaisar Haile Selassie, dan sejarah Indonesia dalam gagasan Asia-Afrika Bung Karno.
Buku ini juga merupakan sebuah dokumentasi “perjalanan spiritual” Ras Muhamad sebagai Duta Reggae Indonesia ke Etiopia. Sebuah negara di belahan benua Afrika yang tidak banyak orang mengenalnya secara luas. Bahkan masih melekat dalam benak kita, bila mendengar Etiopia maka yang terbayang adalah kesedihan, kelaparan, kebodohan, penyakit, dan kemiskinan. Persepsi tersebut masih hidup hingga sekarang karena pada masa ‘Perang Dingin’ lalu dan Ethiopia ketika itu dikuasai rezim komunis memang mengalami hal negatif seperti itu. Tapi kini setelah pemerintahan demokratis berkuasa, negeri ini mengalami kemajuan yang luar biasa berkat sikap ‘visoner’ yang dimiliki almarhum Perdana Menteri Meles Zenawi yang berkuasa sejak tahun 1994 hingga wafatnya tanggal 21 Agustus 2012.
Di Negeri Sheba inilah Ras Muhamad menyusuri setiap akar sejarah dan serat-makna yang terkandung pada setiap lagu Sang Raja Reggae, Bob Marley dan menghubungkannya dengan Kaisar Haile Selassie yang menjadi ilham bagi para rastaman dan musisi reggae di seantero jagad.
Buku setebal 204 halaman yang diterbitkan oleh Grup Galangpress ini sarat dengan foto-foto dokumentasi selama perjalananya di Etiopia. Disertai pula CD lagu-lagu pilihan Rastafari terbaik oleh Asia-Afrika, dan tentunya single terbaru bertajuk “Negeri Pelangi” dengan kolaborasi yang istimewa. (MH)
Reggae tercipta dari bagian budaya. Ia memiliki tujuan dan nilai-nilai yang mulia, ia tercipta di sebuah pulau kecil wilayah Karibia bernama Jamaika. Negeri Jamaika yang populasinya tidak melebihi penduduk Jakarta telah menyebarkan produk ekspor terbesarnya dalam bentuk musik reggae hampir ke seluruh dunia. Hal ini akan mustahil jika tidak ada sosok musisi besar yang kini dikenal sebagai Bob Marley.
Dalam buku perdananya yang bertajuk “Negeri Pelangi” ini Ras Muhamad mencoba meluruskan anggapan-anggapan tersebut. Buku yang terilhami dari sebuah perjalanannya ke Etiopia di tengah tahun 2012 lalu ini mengupas tentang kebangsaan, keragamaan dunia, Rastafari, Bob Marley, Reggae, Ethiopia, Kaisar Haile Selassie, dan sejarah Indonesia dalam gagasan Asia-Afrika Bung Karno.
Buku ini juga merupakan sebuah dokumentasi “perjalanan spiritual” Ras Muhamad sebagai Duta Reggae Indonesia ke Etiopia. Sebuah negara di belahan benua Afrika yang tidak banyak orang mengenalnya secara luas. Bahkan masih melekat dalam benak kita, bila mendengar Etiopia maka yang terbayang adalah kesedihan, kelaparan, kebodohan, penyakit, dan kemiskinan. Persepsi tersebut masih hidup hingga sekarang karena pada masa ‘Perang Dingin’ lalu dan Ethiopia ketika itu dikuasai rezim komunis memang mengalami hal negatif seperti itu. Tapi kini setelah pemerintahan demokratis berkuasa, negeri ini mengalami kemajuan yang luar biasa berkat sikap ‘visoner’ yang dimiliki almarhum Perdana Menteri Meles Zenawi yang berkuasa sejak tahun 1994 hingga wafatnya tanggal 21 Agustus 2012.
Di Negeri Sheba inilah Ras Muhamad menyusuri setiap akar sejarah dan serat-makna yang terkandung pada setiap lagu Sang Raja Reggae, Bob Marley dan menghubungkannya dengan Kaisar Haile Selassie yang menjadi ilham bagi para rastaman dan musisi reggae di seantero jagad.
Buku setebal 204 halaman yang diterbitkan oleh Grup Galangpress ini sarat dengan foto-foto dokumentasi selama perjalananya di Etiopia. Disertai pula CD lagu-lagu pilihan Rastafari terbaik oleh Asia-Afrika, dan tentunya single terbaru bertajuk “Negeri Pelangi” dengan kolaborasi yang istimewa. (MH)
tentang musik REGGAE
SEJARAH MUSIK REGGAE
“Musik Jamaica Pendahulu”
Menurut
sejarah Jamaica, budak yang membawa drum dari Africa disebut “Burru”
yang jadi bagian aransemen lagu yang disebut “talking drums” (drum yang
bicara) yang asli dari Africa Barat. “Jonkanoo” adalah musik budaya
campuran Afrika, Eropa dan Jamaika yang terdiri dari permainan drum,
rattle (alat musik berderik) dan conch tiup. Acara ini muncul saat
natal dilengkapi penari topeng. Jonkanoos pada awalnya adalah tarian
para petani, yang belakangan baru disadari bahwa sebenarnya mereka
berkomunikasi dengan drum dan conch itu. Tahun berikutnya, Calypso dari
Trinidad & Tobago datang membawa Samba yang berasal dari Amerika
Tengah dan diperkenalkan ke orang – orang Jamaika untuk membentuk
sebuah campuran baru yang disebut Mento. Mento sendiri adalah musik
sederhana dengan lirik lucu diiringi gitar, banjo, tambourine, shaker,
scraper dan rumba atau kotak bass. Bentuk ini kemudian populer pada
tahun 20 dan 30an dan merupakan bentuk musik Jamaika pertama yang
menarik perhatian seluruh pulaunya. Saat ini Mento masih bisa dinikmati
sajian turisme. SKA yang sudah muncul pada tahun 40 – 50an sebenarnya
disebutkan oleh History of Jamaican Music, dipengaruhi oleh Swing,
Rythym & Blues dari Amrik. SKA sebenarnya adalah suara big band
dengan aransemen horn (alat tiup), piano, dan ketukan cepat “bop”. Ska
kemudian dengan mudah beralih dan menghasilkan bentuk tarian “skankin”
pad awal 60an. Bintang Jamaica awal antara lain Byron Lee and the
Dragonaires yang dibentuk pada 1956 yang kemudian dianggap sebagai
pencipta “ska”. Perkembangan Ska yang kemudian melambatkan temponya
pada pertengahan 60an memunculkan “Rock Steady” yang punta tune bass
berat dan dipopulerkan oleh Leroy Sibbles dari group Heptones dan
menjadi musik dance Jamaika pertama di 60an.
sejarah Jamaica, budak yang membawa drum dari Africa disebut “Burru”
yang jadi bagian aransemen lagu yang disebut “talking drums” (drum yang
bicara) yang asli dari Africa Barat. “Jonkanoo” adalah musik budaya
campuran Afrika, Eropa dan Jamaika yang terdiri dari permainan drum,
rattle (alat musik berderik) dan conch tiup. Acara ini muncul saat
natal dilengkapi penari topeng. Jonkanoos pada awalnya adalah tarian
para petani, yang belakangan baru disadari bahwa sebenarnya mereka
berkomunikasi dengan drum dan conch itu. Tahun berikutnya, Calypso dari
Trinidad & Tobago datang membawa Samba yang berasal dari Amerika
Tengah dan diperkenalkan ke orang – orang Jamaika untuk membentuk
sebuah campuran baru yang disebut Mento. Mento sendiri adalah musik
sederhana dengan lirik lucu diiringi gitar, banjo, tambourine, shaker,
scraper dan rumba atau kotak bass. Bentuk ini kemudian populer pada
tahun 20 dan 30an dan merupakan bentuk musik Jamaika pertama yang
menarik perhatian seluruh pulaunya. Saat ini Mento masih bisa dinikmati
sajian turisme. SKA yang sudah muncul pada tahun 40 – 50an sebenarnya
disebutkan oleh History of Jamaican Music, dipengaruhi oleh Swing,
Rythym & Blues dari Amrik. SKA sebenarnya adalah suara big band
dengan aransemen horn (alat tiup), piano, dan ketukan cepat “bop”. Ska
kemudian dengan mudah beralih dan menghasilkan bentuk tarian “skankin”
pad awal 60an. Bintang Jamaica awal antara lain Byron Lee and the
Dragonaires yang dibentuk pada 1956 yang kemudian dianggap sebagai
pencipta “ska”. Perkembangan Ska yang kemudian melambatkan temponya
pada pertengahan 60an memunculkan “Rock Steady” yang punta tune bass
berat dan dipopulerkan oleh Leroy Sibbles dari group Heptones dan
menjadi musik dance Jamaika pertama di 60an.
Minggu, 02 Maret 2014
tentang ZIGGY MARLEY
ZIGGY MARLEY
David Nesta "Ziggy" Marley (lahir 17 Oktober 1968, Trenchtown) adalah pemenang Grammy musisi Jamaika. Dia adalah putra sulung Rita dan Bob Marley, reggae akar yang legendaris penyanyi. Ibunya Rita menelepon dan membaptisnya Daud, tetapi ayahnya Bob memberinya julukan "Ziggy" merujuk pada nama panggilan masa kecilnya. Lahir di Saint Ann Parish, Jamaika, Marley belajar cara bermain gitar dan drum dari ayahnya.
Sebagai penduduk asli Kingston, Jamaika, Ziggy Marley pertama duduk di pada sesi rekaman dengan band ayahnya, rombongan reggae legendaris Bob Marley And The Wailers, ketika ia berusia sepuluh tahun. Bergabung dengan tiga bersaudara untuk menjadi The Melody Makers, Ziggy dibuat suara menggetarkan jiwa sendiri campuran blues, rnb, hip-hop dan akar reggae.
Setelah dua album pertama mereka, Play The Game Kanan (1985) dan Hei Dunia! (1986), The Melody Makers memperoleh Grammy pertama mereka (Best Reggae Perekaman) untuk Partai Sadar (1988), album yang diproduksi oleh Talking Heads Chris Frantz, Tina Weymouth yang mencakup lagu-lagu hit "Tomorrow People" dan "Jumpalitan Down."
Album berikutnya termasuk peraih Grammy Satu Bright Day (1989), Jamekya (1991), Joy dan Blues (1993), Online Seperti Kami Ingin 2 B (1995), pemenang Grammy ketiga mereka Fallen Babel (1997), Spirit of Music (1999) dan Ziggy Marley & Melody Makers Live, Vol 1 (2000), yang menampilkan beberapa hits terbesar mereka serta penutup Bob Marley's "Could You Be Loved."
Sementara penjualan album oleh jutaan yang tak terhitung jumlahnya dan menjual konser bersama Melody Makers, termasuk tur Eropa baru-baru ini, Ziggy Marley tidak pernah kehilangan pandangan dari dasar iman, persekutuan dan keluarga.
Setelah dua dekade sebagai pendorong kekuatan kreatif di balik The Melody Makers, Ziggy melangkah keluar sendiri dengan album solo pertamanya, Dragonfly (2003). Tidak pernah puas dengan pengulangan keberhasilan masa lalunya, Ziggy menggunakan Dragonfly untuk mengeksplorasi tanah baru dan menciptakan musik khas sendiri identitas sebagai artis solo.
"Bekerja pada saya sendiri memberi saya kesempatan untuk mengambil waktu dan percobaan saya banyak," kata Ziggy materi di Dragonfly. "Butuh waktu satu tahun untuk menyelesaikan catatan ini. Ini terpanjang yang pernah bekerja di sebuah album. Ini berbeda ketika Anda pada Anda sendiri. Pada suatu titik itu menakutkan dan kemudian di lain itu adalah drive yang membuat Anda fokus lagi. "
Walaupun anggota yang paling akrab sering merindukan keluarga musik untuk melangkah keluar pada mereka sendiri, untuk Ziggy, debut solo bukan tujuan lama ditunggu-tunggu. "Ini bukan sesuatu yang aku berharap untuk sejak saya mulai melakukan musik," katanya. "Itu hanya keadaan, dan saya ingin menjadi benar untuk diri sendiri dan apa yang saya rasakan. Catatan memiliki pesan yang kuat dan rasanya enak. "
Selain menjadi album pertama Ziggy dari bahan solo, untuk Dragonfly ia merasa sudah saatnya untuk perubahan suasana. "Biasanya kami mencatat di Kingston. Lagu-lagu ini ditulis di Jamaika dan dicatat di Amerika. Aku set pertama rekaman di sebuah rumah di Miami dan kemudian pergi ke LA menyewa rumah, menyiapkan peralatan dan pada dasarnya melakukan sisanya di sana. Aku meninggalkan Jamaika untuk sementara waktu, karena sebagai seorang seniman saya harus mengalami hal yang berbeda, untuk melihat dunia dan memiliki energi yang berbeda. Tinggal di satu tempat tidak baik bagi saya dan saya sudah bosan membuat studio musik dalam pengaturan. Aku ingin menjadi lebih seperti kehidupan sehari-hari bagian dari diriku.
"Sebagai seorang individu, saya telah membuka lebih banyak dengan mengadakan perjalanan di luar Jamaika, dan aku sudah lebih mampu bersikap terbuka untuk orang-orang dan ide. Ini membantu saya untuk tumbuh sebagai pribadi berada di luar elemen saya, untuk berada di saya sendiri di tempat asing bertemu orang-orang. Itu bagus bagi saya untuk tidak berada dalam domain saya aman. "
Bukti-bukti bahwa pertumbuhan di mana-mana di Dragonfly.
Pada tanggal 2 Juli 2006, Ziggy merilis album kedua, Love is My Religion. Ia menyatakan "Album ini dari hatiku," dan ia merasa bahwa ia memeluk dan emosional spiritualnya sisi kehidupan. Album ini menunjukkan Ziggy datang ke dirinya sendiri sebagai seniman, karena ia menulis semua lagu untuk album dan memainkan hampir semua instrumen.
Love is My Agama adalah bukti Ziggy Marley bakat ketika ia mengikuti jejak ayahnya, Legenda.
David Nesta "Ziggy" Marley (lahir 17 Oktober 1968, Trenchtown) adalah pemenang Grammy musisi Jamaika. Dia adalah putra sulung Rita dan Bob Marley, reggae akar yang legendaris penyanyi. Ibunya Rita menelepon dan membaptisnya Daud, tetapi ayahnya Bob memberinya julukan "Ziggy" merujuk pada nama panggilan masa kecilnya. Lahir di Saint Ann Parish, Jamaika, Marley belajar cara bermain gitar dan drum dari ayahnya.
Sebagai penduduk asli Kingston, Jamaika, Ziggy Marley pertama duduk di pada sesi rekaman dengan band ayahnya, rombongan reggae legendaris Bob Marley And The Wailers, ketika ia berusia sepuluh tahun. Bergabung dengan tiga bersaudara untuk menjadi The Melody Makers, Ziggy dibuat suara menggetarkan jiwa sendiri campuran blues, rnb, hip-hop dan akar reggae.
Setelah dua album pertama mereka, Play The Game Kanan (1985) dan Hei Dunia! (1986), The Melody Makers memperoleh Grammy pertama mereka (Best Reggae Perekaman) untuk Partai Sadar (1988), album yang diproduksi oleh Talking Heads Chris Frantz, Tina Weymouth yang mencakup lagu-lagu hit "Tomorrow People" dan "Jumpalitan Down."
Album berikutnya termasuk peraih Grammy Satu Bright Day (1989), Jamekya (1991), Joy dan Blues (1993), Online Seperti Kami Ingin 2 B (1995), pemenang Grammy ketiga mereka Fallen Babel (1997), Spirit of Music (1999) dan Ziggy Marley & Melody Makers Live, Vol 1 (2000), yang menampilkan beberapa hits terbesar mereka serta penutup Bob Marley's "Could You Be Loved."
Sementara penjualan album oleh jutaan yang tak terhitung jumlahnya dan menjual konser bersama Melody Makers, termasuk tur Eropa baru-baru ini, Ziggy Marley tidak pernah kehilangan pandangan dari dasar iman, persekutuan dan keluarga.
Setelah dua dekade sebagai pendorong kekuatan kreatif di balik The Melody Makers, Ziggy melangkah keluar sendiri dengan album solo pertamanya, Dragonfly (2003). Tidak pernah puas dengan pengulangan keberhasilan masa lalunya, Ziggy menggunakan Dragonfly untuk mengeksplorasi tanah baru dan menciptakan musik khas sendiri identitas sebagai artis solo.
"Bekerja pada saya sendiri memberi saya kesempatan untuk mengambil waktu dan percobaan saya banyak," kata Ziggy materi di Dragonfly. "Butuh waktu satu tahun untuk menyelesaikan catatan ini. Ini terpanjang yang pernah bekerja di sebuah album. Ini berbeda ketika Anda pada Anda sendiri. Pada suatu titik itu menakutkan dan kemudian di lain itu adalah drive yang membuat Anda fokus lagi. "
Walaupun anggota yang paling akrab sering merindukan keluarga musik untuk melangkah keluar pada mereka sendiri, untuk Ziggy, debut solo bukan tujuan lama ditunggu-tunggu. "Ini bukan sesuatu yang aku berharap untuk sejak saya mulai melakukan musik," katanya. "Itu hanya keadaan, dan saya ingin menjadi benar untuk diri sendiri dan apa yang saya rasakan. Catatan memiliki pesan yang kuat dan rasanya enak. "
Selain menjadi album pertama Ziggy dari bahan solo, untuk Dragonfly ia merasa sudah saatnya untuk perubahan suasana. "Biasanya kami mencatat di Kingston. Lagu-lagu ini ditulis di Jamaika dan dicatat di Amerika. Aku set pertama rekaman di sebuah rumah di Miami dan kemudian pergi ke LA menyewa rumah, menyiapkan peralatan dan pada dasarnya melakukan sisanya di sana. Aku meninggalkan Jamaika untuk sementara waktu, karena sebagai seorang seniman saya harus mengalami hal yang berbeda, untuk melihat dunia dan memiliki energi yang berbeda. Tinggal di satu tempat tidak baik bagi saya dan saya sudah bosan membuat studio musik dalam pengaturan. Aku ingin menjadi lebih seperti kehidupan sehari-hari bagian dari diriku.
"Sebagai seorang individu, saya telah membuka lebih banyak dengan mengadakan perjalanan di luar Jamaika, dan aku sudah lebih mampu bersikap terbuka untuk orang-orang dan ide. Ini membantu saya untuk tumbuh sebagai pribadi berada di luar elemen saya, untuk berada di saya sendiri di tempat asing bertemu orang-orang. Itu bagus bagi saya untuk tidak berada dalam domain saya aman. "
Bukti-bukti bahwa pertumbuhan di mana-mana di Dragonfly.
Pada tanggal 2 Juli 2006, Ziggy merilis album kedua, Love is My Religion. Ia menyatakan "Album ini dari hatiku," dan ia merasa bahwa ia memeluk dan emosional spiritualnya sisi kehidupan. Album ini menunjukkan Ziggy datang ke dirinya sendiri sebagai seniman, karena ia menulis semua lagu untuk album dan memainkan hampir semua instrumen.
Love is My Agama adalah bukti Ziggy Marley bakat ketika ia mengikuti jejak ayahnya, Legenda.
Langganan:
Postingan (Atom)







